Selasa, 16 Maret 2010

WISATA KULINER "NASI GORENG SHOLIHAH"

Dalam rangka pendidikan kemandirian Generasi Muda, terutama bagi putri-putri Lembaga Dakwah Islam Indonesia Jakarta Barat, kepengurusan keputrian LDII Jakarta Barat baru-baru ini telah menyelenggarakan wisata kuliner yang diadakan di komplek Masjid Mamba'ul Huda Kebon Jeruk Jakarta Barat.
Wisata kuliner yang bertemakan "Nasi Goreng Wanita Sholihah" adalah merupakan program tahunan yang disusun dalam rangka pendidikan kemandirian bagi putri-putri Lembaga Dakwah Islam Indonesia pada khususnya dan Muda-mudi Islam pada umumnya.

Kegiatan yang diikuti oleh tujuh macam masakan Nasi Goreng dari tujuh kecamatan se Jakarta Barat diawali dengan sosialisasi tentang pentingnya kemandirian di akhiri dengan lomba masak nasi goreng. "Kegiatan ini kami selenggarakan dalam rangka untuk pembinaan bagi generasi muda agar bisa menjadi generasi yang mandiri, mampu menghadapi tantangan kehidupan zaman" kata Fitriaty Fauziah selaku ketua panitia penyelenggara. Selanjutnya Fitri menjelaskan, bahwa kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka untuk memanfaatkan hari libur nasional, sehingga yang biasanya keluyuran kesana-kemari, bisa di manfaatkan untuk mencari pengalaman dan bermanfaat, ujarnya.

Rabu, 24 Februari 2010

Tangan Diatas ( Alyadul Ulya )

Mensarikan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di Hadist Bukhari Kitab Zakat :152, Nabi Muhammad bersabda : "Alyadul ulya khoirun minal yadis sufla". Yang artinya bahwa " Tangan diatas itu lebih baik dari pada tangan dibawah". Pada saat itu Nabi menyindir sohabat Hakim bn Khizam yang berulang kali meminta-minta tanpa malu kepada Nabi. Dan Nabi Muhammad dengan sifat rokhim-nya selalu memberi apa yang diminta oleh Hakim. Hingga suatu saat Nabi menegur dan mmberi nasihat, bahwa sebenarnya yang namanya harta itu hijau dan manis, maka barang siapa yang mengambil (menggunakan) harta dengan leganya hati, maka harta itu akan membarokahkan.

Sebaliknya bila memcari harta dengan rakusnya diri, maka harta itu tidak dibarokahkan sebagaimana orang yang makan namun tidak pernah merasa kenyang. Mendengar nasihat Nabi tersebut, Hakim pun berjanji sejak saat itu pula tidak akan meminta-minta lagi kepada siapapun sampai mati. Dan ternyata janji Hakim tersebut disaksikan sendiri oleh Abu Bakar dan Umar. Hakim bn Khizam tidak pernah meminta-minta lagi, bahkan diberi harta rampasan perang sekalipun.

Demikian hadist diatas yang menjelaskan bahwa tangan diatas itu lebih baik dari tangan dibawah. Maka bersyukurlah Anda yang sudah merasa menjadi TDA. Artinya Anda sudah hidup cukup atau berkecukupan (karena tidak semua orang cukup untuk memberi), Dan artinya pula bahwa paling tidak Anda termasuk golongan yang bisa memberi (sekali lagi karena tidak semua orang bisa memberi). Sekarang yang perlu ditekankan, Apakah Anda termasuk orang yang mau memberi? (karena bisa belum berarti mau). Memberi ternyata bisa menjadi hal yang susah dan berat, dorongan untuk terus memperkaya diri dan takut miskin menjadi salah satu sebab kenapa orang enggan memberi. Orang seperti itu tidak menyadari bahwa sebenarnya semua yang kita miliki di dunia ini hanya sekedar titipan, sebenaranya semua harta milik Alloh, kecuali pakaian yang sudah usang kita pakai dan makanan yang sudah kita makan.

Saya jadi ingat lagu pengamen di Bis yang antara lain berbunyi: " Sangu mati dudu mas rojo brono, dudu sawah tegal sing ombo, nanging iman ingkang sampurno". Ya bekal akhirat bukanlah harta mas berlian, maupun tanah atau sawah yang luas, tapi amal dan iman yang sempurna.
Harta yang kita miliki semuanya tidak akan ada yang dibawa mati. Kecuali harta yang sudah disodaqohkan sebagai amal jariyah. Untuk itu sudahkan Anda untuk ber-sedekah untuk mensucikan harta Anda? Karena bila kita memakan harta kita sebelum disodaqohkan sungguh seperti kita makan ayam mentah-mentah tanpa disembelih dan dibersihkan kotorannnya dulu.

Semoga segala upaya kita untuk berhasil tidak semata-mata demi kesuksesan dan kekayaan sendiri, namun demi bisa memberi sebanyak-banyaknya. Karena bila Anda bisa sangat banyak memberi, berarti Anda juga sangat banyak menerima. Mari bersedekah.. Karena bersedekah baik untuk hati Anda..

Senyum Dan Diam

Sebentar lagi, usia sudah mendekati kepala empat. Anak pun sudah empat. Berumah tangga sudah empat kuadrat alias 16 tahun. Banyak hal dan banyak pencapaian yang sudah saya dapatkan dalam kurun waktu itu. Dengan rasa syukur yang mendalam, kiranya inilah karunia terindah yang dianugerahkan Allah kepada saya. Tak berbanding dan tak tertandingi. Alhamdulillah, tak ada yang pantas terucap kecuali pujian itu. Tinggal bagaimana mengelolanya sehingga nikmat itu menjadi berkembang dan berdaya guna keberadaannya. Tidak hilang, tidak rusak, namun justru mengembang, berbuah, berbarokah. Netepi dalil lain syakartum – la’azidannakum.
Maka tatkala, saya ketemu dengan para yunior yang sekarang punya kedudukan dan posisi kunci, dengan kehidupan yang mapan, godaan mulai berdatangan. Obrolan pun berkembang pada arti hidup. Masih banyak orang yang mengukur pencapaian hidup dengan sebuah kedudukan. Makin tinggi kedudukan berarti semakin sukses. Semakin bermartabat, semakin berkelas. Mereka sering berkata, “Wah, seharusnya Mas ini sudah jadi manager. Apalagi usia sudah hampir kepala empat.” Menanggapi hal itu saya hanya tersenyum dan diam saja.

Lain lagi, godaan yang datang ketika saya ketemu dengan para senior. Secara tidak sengaja bincang – bincang pun mengarah pada ukuran kesuksesan hidup. Lain dengan para yunior yang masih banyak berlagak, para senior ini lebih bermutu, biasanya mereka bicara kesuksesan dari berbagai pandangan. Sebagian ada yang meneropong dari jenjang pendidikan. Secara tak sengaja mereka berseloroh, “Sudah rampung belum S3-nya?” Dengan polos dan lugunya, pernyataan itu saya balas dengan senyum dan diam saja.

Sebagian lagi ada yang memandang kesuksesan dari kaca mata kemandirian dan pemberdayaan. Mereka bilang, “Sekarang sudah usaha apa? Dan berapa orang pekerjanya?” Mendengar ucapan itu, saya pun tak kuasa, hanya tersenyum dan diam saja. Sebagain lainnya ada yang memandang kesuksesan hidup ini dari tingkat spiritualitasnya. Dengan enteng dan bangganya mereka berkata, “Sudah pergi ke Kulon belum?” Mendengar kalimat itu, saya pun hanya bisa tersenyum dan diam saja.

Lain lagi jika saya ketemu dengan para ustadz. Ketika mereka berbincang tentang al-ilmu, saya pun terdiam. Tatkala mereka bertanya, “Sudah sampai mana pencapaianmu?” Saya pun tersenyum menanggapinya. Banyak hal yang saya respon dengan senyum dan diam semata. Bukan karena mengiyakan atau menolak. Bukan pula membantah atau mendebat. Justru dengan tersenyum dan diam itulah, saya bisa melihat wajah nyata kehidupan dengan apa adanya. Semakin menenteramkan hati. Mempraktekkan panjangnya diam. Menerampilkan sodakoh senyuman. Dan menambah kedalaman syukur atas nikmat Allah yang telah diberikan kepada saya.

Ternyata dengan banyak senyum dan diam, semakin terkuak rahasia – rahasia hidup ini. Maksud – maksud yang tak terungkap, terkadang bisa tertangkap dengan sikap diam ini. Orang yang mau pamer, orang yang pengin dihormati, orang yang berniat baik, orang yang mau berbuat tidak baik, semua terekam dalam diam - sunyi dan senyum ini.

Pun halnya dengan diri sendiri. Dengan senyum dan diam, ternyata mampu mengobsesi diri menjadi lebih baik dan baik. Punya kekuatan dahsyat untuk berbuat baik untuk sesama dan sekitarnya. Memperbaiki diri dan terus berusaha baik selalu. Begitu elok ketika jiwa dan raga menyatu dalam kesatuan nuansa diam dan tersenyum ini. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (Rowahu Bukhory (5672), Muslim dalam bab al-Luqothoh (14), Abu Dawud (91), An-Nasa’i (401) At-Tirmidzi (809)). Dan firman Allah:”Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” An-Nisaa : 114.

Maka, saya pun malu sejatinya, jika harus menjawab setiap pertanyaan itu semua - apalagi dengan maksud mengimbangi lawan bicara. Sebab bagi saya firman Allah dalam Surat Ali Imron 139 sudah mencukupinya. Allah berfirman, “Janganlah kamu merasa hina, dan janganlah kamu bersedih hati, sejatinya kamulah orang-orang yang paling mulia, jika kamu menjadi orang-orang yang beriman.” Apalagi yang mau dicari?

Tatkala kita sudah merasa berada di puncak, kemudian sekeliling kita ramai menawarkan dan membicarakan hal – hal yang banyak, berteriak, adakalanya baik dan kebanyakan angin lalu semata, tak lain sikap yang relevan adalah memberinya senyum dan diam saja. Sebab kalau direspon tak bakal cukup waktu. Tak bakal rampung urusannya. Termasuk ketika ada yang bertanya, “Sekarang istrinya sudah berapa?” Saya pun menoleh, menatap sang penanya, kemudian tersenyum dan diam saja.

Oleh:Ustadz.Faizunal Abdillah

KASIHAN IBU

Ibu…
Bagiku kaulah tempat berpijak
Sedari kecilku hingga kelak
Tiada tempat untuk mengadu
Hanya kepadamulah Ibu

Kasihan Ibu…
Kini kau telah terabaikan
Anak-anakmu yang telah besar
Kini telah terasuk ketamakan
Mereka tega perlakukanmu dengan kasar

Oh, Ibu…
Tawamu tak lagi ku dengar
Kharismamu tak lagi terpancar
Kini ketenanganmu telah terusik
Oleh pertikaian yang tak bertitik

Kasihan, ibu…
Kini kau merintih, perih
Air matamu berlinang
Namun, tak mampu ku bendung
Kau tampak sedih
Sukmamu tak lagi tenang
Karena ulah anakmu yang dulu kau kandung

Maafkan aku Ibu…
Aku tak mampu menjaga harta pusakamu
Tapi, aku berjanji padamu
Dengan semangat yang terus berkobar
Akan ku persembahkan megamu yang dulu bersinar
Dengan segenap jiwa raga
Sampai akhir menutup mata

Karya : Suci Fitriah

PENDAHULUAN

Sebagaimana kita fahami bersama bahwa setelah kita mati nanti hanya ada dua tempat, yaitu Neraka dan Surga. Di Surga kita bisa menikmati segala apa yang kita inginkan, Sebaliknya, Neraka adalah tempat yang sangat menyakitkan, tempat yang penuh penderitaan, sedih, susah, sengsara, sakit yang tak pernah berhenti. Apinya yang menyala-nyala selalu siap menerkan untuk membakar siapa saja yang ada didalamnya.

Dan ketika kita hidup dialam akhirat, tidak ada sesuatupun yang bisa membantu kita, yang ada hanya penyesalan. Kecuali kalau kita memiliki tiga hal.

1. Sodaqoh Jariyah, inilah yang menolong kita kelak,
2. Ilmu yang bermanfaat dan
3. Anak yang sholeh/sholehat, anak yang memiliki budhi pekerti yang mau mendoakan kedua orang tuanya, anak yang mengajak orang tuanya selamat dari Api neraka, dari penyiksaan, anak yang selalu mau mengajak orang tuanya ke Surga.

Namun yang terjadi saat ini, banyak anak-anak yang tersesat, banyak anak-anak yang tidak tahu arah harus kemana, bahkan sampai mendekati kepada anak-anak kita.
Kasus anak membunuh orang tua, anak mabuk-mabukan, anak kecanduan narkoba bahkan banyak anak-anak yang menyeret orang tuanya ke neraka.

Betapa sedihnya kita sebagai orang tua yang pergi pagi pulang petang, membanting tulang, mencurahkan keringat dan seluruh tenaga hingga bermandikan keringat darah, rasa sakit hati, rasa cape, tenaga habis diperas untuk mencari nafkah agar keluarga kita bisa menikmati maisyah yang kita peroleh, kemudian malah justru menarik kita ke dalam jurang api neraka.

Banyak sudah peristiwa yang terjadi di muka bumi ini sebagai contoh untuk kita renungkan. dan masih banyak lagi contoh-contoh kasus yang kita semua menjadi khawatir, ngeri, prihatin dan pasti kita semua sedih.

Hal-hal demikian akan terus merajalela, akan terus mengintai sudut-sudut keluarga kita, akan terus mengancam dan mencari mangsa.

Hanya bagi orang-orang yang selalu bertaqwa dan terus mengingat Alloh SWT sajalah yang selalu berdoa mohon perlindungan yang akan terhindar dan terselamatkan dari ancaman-ancaman segala macam tersebut di atas.

Dalam rangka ikhtiar mencari perlindungan dan pembentengan bagi keluarga kita terutama untuk anak-anak kita selaku masa dep[an dan harapan kita semua, maka para pengatur berijtihad untuk terus mengadakan pembinaan keimanan secara intensif melalui Pondok Pesantren yang akan kita bangun bersama.

Pendidikan sekolah untuk putra-putri kita di tingkat SD, SMP maupun SMA, bahkan di PT, saat ini tidak ada sama sekali pendidikan yang khusus membina akhlaq, pendidikan Taukhid bahkan pendidikan Agama yang mereka terapkan hanya sebatas pengetahuan umum.

Dari uraian dan kisah serta tamsil diatas, mengetuk hati para ‘Alim ‘Ulama Kebon Jeruk Jakarta Barat , untuk membekali putra – putri kita agar memiliki budhi pekerti, akhlaqul karimah dan ketauhidan yang kuat